Tag Archives: simbol-simbol kepercayaan jawa kuna.

simbol-simbol kepercayaan jawa kuna.

Standar

Gunung. Simbolisasi gunung berasal tradisi aslì, bukan dari hindu atau budha., gunung menyimbolkan laku, juga menyimbolkan perjalanan roh dalam kepercayaan jawa kuna, yg diketahui, digunakan bentuknya dalam berbagai macam tradisi kepercayaan di jawa.
Seperti: punden berundak (tradisi kuna), tumpeng (tradisi yg masih berlaku hingga kini), gunung dalam wayang (kayon) dan lain-lain,
Jadi bentuk bangunan suci berupa punden berundak, merupakan bentuk bangunan asli.
Penggunaan unsur-unsur agama asli dalam HINDU dan BUDHA dapat dilihat misalnya pada pura besakih di bali dan borobudur di jawa.
Pura Besakih: terletak di atas gunung dan berteras,
Pembagian ruang pada pura-pura di bali jaba-jaba tengah – jero yg bernilai
Nista-madya-utama, juga merupakan pengaruh agama asli, Utama selalu lebih tinggi letaknya, merupakan simbolisasi laku, yaitu selalu menuju keutamaan.
Borobudur: dibangun diatas bukit dan berteras (diambil dari bentuk punden berundak).
Lubang lubang pada stupa berbentuk belah ketupat (wajik) juga diambil tradisi nenek moyang, simbolisasi dari peleburan dosa,
Dahulu, setelah melaksanakan laku penyucian diri biasanya diadakan selametan dengan ketupat (bukan dengan tumpeng) ketupat yg dibagikan kepada para tetangga mengandung makna permintaan maaf / mohon pengampunan atas segala kesalahan (ngaku lepat–>kupat), lebar lebur (setelah laku penyucian diri/peleburan dosa).
Tradisi inilah yg diambil oleh islam jawa, yaitu bermaaf-maafan setelah/lebar ramadhan.

Sesajen, yg merupakan ujud penghormatan kepada leluhur
Merupakan tradisi asli,
Sesajen hingga kini masih hidup dalam tradisi kejawen.,
Simbol gunung, sebagai tempat tinggal roh untuk sementara, dan sajen, sebagai makanan persembahan bagi roh leluhur diwujudkan dalam tumpeng (tumpeng▲gunung dan lauk pauknya sesajen) dan hingga kini dalam tradisi ritual kejawen, orang masih menggunakan tumpeng▲.

Dupa, yg merupakan simbol dari penyampayan doa, berasal dari leluhur, Dupa diperkirakan sudah digunakan sebelum HINDU, BUDHA, masuk kejawa, sebab bahan-bahan baku dupa (serbuk kayu cendana dan getah pohon damar) berasal dari nusantara. Bahan-bahan tersebut kemudian dikenal oleh bangsa-bangsa lain setelah dibawa keasia dan timur tengah oleh para pedagang.

Wayang, yg menjadi bagian dari ritual kejawen telah dikenal jau sebelum islam masuk ke indonesia.
Buktinya, pertunjukan wayang sudah tertulis dalam prasasti Dyah Balitung th899m (tahun segitukan sunan kali jaga belum lahir?)

Lakon wayang, selalu diambil ceritanya dari kitab MAHABARATA yg merupakan kitab suci agama hindu, maupun Ramayana, yg merupakan epos india,(memang tua mana, kitab Mahabarata dan Ramayana dengan sunan kali jaga?)

Semar yg merupakan simbol tuhan dalam tradisi kejawen, berasal dari jawa/indonesia asli, karna dalam kitab Hindu maupun budha tidak ditemukan tokoh semar. Kaum islam sekarang ini banyak mengaku-ngaku bahwa sunan kalijaga-lah yg menciptakan tokoh semar. Kata mereka semar dari kata arab ”ismar” Wah sama kasusnya dengangan jamus kalimasada, yg di plesetkan menjadi kalimat sahadat.
Memangnya berapa ratus taun sih umur sunan kali jaga? Bukankah tokoh semar sudah tertulis dalam kitab-kitab kuno sebelum masuknya islam ke jawa. Misalnya dalam GatotkacaÇraya yg di tulis oleh Mpu Panuluh thn 1188, juga pada candi-candi kafir, seperti candi jago, candi panataran, dan candi sukuh?

Hal-hal tersebut diatas adalah unsur – unsur agama kejawen yg ada sebelum islam masuk ke jawa, bahkan sebelum Hindu – budha masuk ke jawa. Dari poin-poin diatas, selain menolak pendapat SWATANTRE
Bahwa kejawen berasal dari islam/wali9, saya juga menolak pendapat Gus Dur dan lain- lain orang yg menyatakan pendapat senada. Pendapat saya, kejawen adalah agama leluhur, yg nasibnya kian mengenaskan, masuknya agama islam menyebabkan pendangkalan ajaran kejawen yg amat sangat aku cintai.

Iklan